Skip to main content

Posts

4 THINGS TO DO BEFORE RAMADHAN COME

Sudahkah kamu melakukan 4 hal ini? Sebagai muslim tentulah kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Ramadhan, bulan yang paling mulia dibandingkan bulan lainnya. Untuk itu, kita perlu memastikan diri untuk melakukan beberapa hal berikut: 1. Berdo'a Kita harus memperbanyak doa agar Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu Ramadhan. Diberikan fisik yang kuat dan hati yang ikhlas saat melaksanakannya. Selalu bersemangat melakukan perbuatan baik Dihindari dari perbuatan mengganggu ramadhan. "Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kamu di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikan umur kami di bulan Ramadhan". (HR. Ahmad dan Atthabarani) * "Disunnatkan bagi siapa saja yang mendapat kenikmatan baru yang tampak jelas atau bagi yang terhindar dari cobaan yang tampak jelas untuk melakukan sujud syukur atau memperbanyak pujian kepada Allah". Alangkah baiknya jika kita setiap muslim senantiasa mengucapkan syukur serta p...

Tentang MEREKA

Salah satu ciri temanku ialah pernah menemaniku jogging pagi. Sudahkah kamu? Namanya Gitta Prawidia, seorang mahasiswi IPB asal Bandung yang menjadi salah satu teman baikku selama di kampus. Ia adalah pribadi yang extrovert dan sedikit pesimis, namun memiliki banyak cerita yang mampu ia sampaikan. Perkenalan kami berawal dari asrama saat tingkat satu lalu. Kami mendapatkan kamar yang berdekatan, aku nomor 255 dan Gitta 250. Kami mulai dekat karena dulu aku dipercaya menjadi Ketua asrama di bagian lorong 9 Asrama Tingkat Persiapan Bersama di gedung A2. Saat itu, aku amat menikmati masa tingkat satu di asrama. Aku termasuk dalam mahasiswi yang hampir selalu diasrama. Kebetulan teman sekamar Gitta, jarang sekali di kamar dan mereka pun sering bertengkat. Dari sanalah kami mulai dekat hingga saat ini.  Dipandanganku dulu, Gitta adalah sosok wanita idaman dengan kulit mulus dan selalu wangin setiap saat. Ia yang mengenalkanku dengan berbagai produk skin care. Selama kur...

SAATNYA MENANTANG DIRI SENDIRI #30DWC

Syukur bahagia saya haturkan kepada segenap partner dan orang-orang yang telah memotivasi saya untuk menulis. Banyak hal yang saya dapatkan dari mengikuti program ini diantaranya, saya mampu membuat 30 tulisan (termasuk ini) yang sebelumnya saya fikir tidak akan pernah selesai karena kesibukan dan kelalaian saya dalam manajemen waktu luang. Selama ini, saya banyak disibukkan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang kakak dalam membina dan menjadi mentor bagi adik-adik saya, hingga terkadang saya lupa bahwa banyak mimpi besar yang harus saya perjuangkan. Sulu, seseorang pernah mengirimi saya surat dan menjelaskan bahwa ia masih memiliki mimpi-mimpi besar yang harus ia kejar, begitupun saya. Menjadi bagian dari #30DWC ini membuat saya berfikir bagaimana keseharian para penulis dalam menyelesaikan tulisan mereka, bagaimana mengelola waktu dan mengerjakan semua prioritas utama lebih dulu. Rasanya terselip sedikit kebanggaan untuk diri sendiri dalam menyelesaikan program i...

Langkah Awal Perubahan

Terlahir sebagai seorang muslim membuatku nyaman berkumpul bersama muslim lainnya. Hidup di pinggiran kota dengan segala kesederhanaaan yang dimilikinya, menjadikanku sosok yang bisa lebih menghargai karya anak desa. Ya, terlahir sebagai diriku adalah nikmat Tuhan yang paling aku syukuri dalam hidup. Aku tak tahu bagaimana ceritaku dulu hingga bisa terlahir sebagai diriku saat ini. Hanya sedikit cerita yang ku dengar dari orang yang mengetahui kisah kedua orang tuaku. Aku banyak belajar dari mereka, ayah dan ibuku yang tak henti menjadi tempatku berkeluh resah sekaligus pelabuhan istirahatku. Dulu, banyak sekali mimpi besar yang aku ingin capai untuk membanggakan mereka dengan beragam prestasi. Namun kini, hanya untaian doa terbaik yang dapat kusampaikan pada Tuhan. Saat itu usiaku 18 tahun. Pertama kali dalam hidup aku memberanikan diri berada dari dari orang tua dan keluarga. Sedikit berat awalnya, namun itulah hal yang harus aku lakukan. Minimnya pengetahuan tentang dunia ...

Me vs the World.

Saya adalah sesorang yang taat pada aturan. Saya menyukai hal-hal yang rapih namun tidak rigid. Kesukaan saya terhadap sesuatu yang tertata dengan baik membentuk saya berkarakter seperti saat ini, taat. Kebiasaan saya dalam menata barang-barang ini, terkadang membuat saya sendiri tergopoh-gopoh mengikuti kehendak diri. Tak hanya itu, saya pun mendapatkan banyak kritikan akibat melakukan sesuatu secara berlebihan. Sebagai seseorang yang sedikit perfectionis, saya memaksa diri melakukan sesuatu yang tak biasa dilakukan kebanyakan orang. Hal ini  akhirnya mempengaruhi saya dalam pergaulan. Banyak orang yang tak ingin mendekat, apalagi merapat. Merema cenderung hanya melihat dari jauh dan memastikannya tidak mengganggu privasi mereka. Mereka menganggap diri mereka lebih baik dari satu yang lain. Padahal, manusia terbaik adalah mereka yang selalu berfikir positif dalam kondisi apapun. Andai saja dunia bisa seramah robot mainan kecil saya dulu, pastilah dunia akan terasa lebih m...

Deadline vs Deadliner

Pernah merasakan kerja dibawah tekanan karena deadline? Atau mungkin saat ini kamu adalah deadliner? Apasih perbedaan dua kata di atas? Deadline merupakan batas akhir pengumpulan tugas atau pekerjaan, sedangkan deadliner adalah sesorang yang suka menunda-nunda pekerjaan hingga batas akhir pengumpulan. Biasanya seorang deadliner sangat identik dengan deadline. Ia hanya akan mulai mengerjakan pekerjaannya jika waktu sudah sampai pada akhir waktu. Menurutmu mana yang lebih baik? Atau adakah yang lebih baik? Menurutku, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.  Bisa jadi seorang deadliner akan termotivasi untuk bekerja dengan cepat  dan berada di bawah takanan karena waktu yang semakin sempit. Atau bisa jadi bekerja sesuai deadline akan lebih menenangkan dibanding dengan menjadi deadliner.  Aku ingin bercerita satu momen yang kuingat tentang deadliner. Biasanya deadline atau tenggat waktu identik saat momen pergantian hari yaitu 23. 59....

Tak Selamanya Desa itu Indah

Aku adalah anak desa yang berasal dari suatu kampung bernama Beringin. Ya, itulah kampung halamanku. Satu desa yang memiliki banyak cerita indah, memoriable dan selalu dirindukan. Desa asalku merupakan daerah perbatadan antara kota dan Kabupaten. Bisa dibilang, aku adalah anak pinggiran, tepatnya di Bandar Lampung ujung. Mereka bilang, rumah tinggalku adalah tempat jin buang anak (tempat yang sangat jauh). Tema -temanku hanya beberapa saja yang pernah singgah ke rumahku. Kondisi demikian membuatku maklum karena lokasi rumahku yang jauh dari pusat kota dan hingar bingar musik populer. Desa ini memiliki banyak cerita indah untuk kami para masyarakat asli di sini. Desa yang tak begiti luas ini dulunya memiliki banyak lahan kosong dan lapangan yang bisa kami jadikan sebagai tempat bermain. Setiap hari sepulang sekolah, anak-anak tak pernah absen bermain di halaman Ketua RT dan lapangan sekitar desa. Mainan favorit kami ialah engklek, kelereng, wayang, petak umpit dan main...